18 Februari 2008 lalu, genap empat tahun Wali Kota Fauzi Bahar memimpin Kota Padang. Banyak yang telah ia lakukan, tapi tentu saja masih ada yang tertunda dan terabaikan. Karena mustahil semuanya serba sempurna. Setelah dilantik pada 18 Februari 2004 sebagai Wali Kota Padang, Putra Kototangah ini langsung menggebrak. Judi toto gelap (togel) yang seperti telah berurat berakar di Kota Padang, diperangi. "Jabatan saya, saya pertaruhkan untuk mengikis habis togel ini," begitu Fauzi Bahar bertekad. Meski awalnya banyak yang meragukan, tapi semua akhirnya berpihak pada sikap Fauzi Bahar. "Perang" dimulai! Karena besarnya dukungan dan kekuatan masyarakat, togel mengirap. Fauzi Bahar memulai babak baru pada 2005 atau persisnya memasuki awal 1426 Hijriyah. Kegelisahannya terhadap kemerosotan moral generasi muda tak tertahankan. Ia menghimpun segala masukan dan kekuatan para tokoh agama. Lahirlah kebijakan tentang Pesantren Ramadhan. Ini menjadi titik awal untuk mengembalikan generasi muda yang Islami di Kota Padang. Konsistensi dan keseriusan pendidikan untuk mempertebal keimanan dan ketakwaan generasi muda ini, dilengkapi dengan imbauan untuk berpakaian muslim bagi anak sekolah yang beragama Islam. Ini tentu saja dengan tetap menghormati keberagaman budaya dan perbedaan keyakinan masyarakat di Kota Padang.
Walau sempat dikritik, perlahan namun pasti kebijakan ini mendapat tempat dan efektif. Sebab, acuannya sangat jelas, bahwa masyarakat Minangkabau yang mayoritas muslim, memiliki falsafah hidup "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". Fauzi Bahar mengaplikasikannya.
Zakat Pemberantas Kemiskinan
Pada 2006 tepatnya pada momen 1 Muharram 1427 Hijriyah Fauzi Bahar mencanangkan pengoptimalan zakat untuk memberantas kemiskinan. Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid berkesempatan melaunching program ini. Ia memulai dari jajarannya. Para pegawai di lingkungan Pemko Padang menyalurkan zakat melalui Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Padang. Pengelolaannya dilakukan secara profesional dan transparan. Laporan pengelolaan (penerimaan dari muzaki dan penyaluran pada mustahik) disampaikan secara terbuka ke publik. Hingga tahun 2007 lebih dari Rp2 miliar zakat yang diterima telah disalurkan. Kontan, hal ini mendapat perhatian luas. Tak saja di Indonesia, Kota Padang juga menyita perhatian di tingkat Asia Tenggara, dan negara-negara lain. Puncaknya pada November 2007, Kota Padang ditunjuk sebagai penyelenggara Konferensi Zakat Asia Tenggara II. Tak kurang 350 peserta dari delegasi 8 negara peserta konferensi hadir di Padang. Mereka merupakan utusan Indonesia (tuan rumah), Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Australia, Qatar, Syria, Saudi Arabia, dan Amman.
Asmaul Husna dan Subuh Mubarakah
Program menggemakan kembali Asmaul Husna dicetuskan pada 2007/1428 Hijriyah. Saat program ini diluncurkan semua ulama mendukung. Puncaknya lomba membaca Asmaul Husna pun digelar. Sekitar 10.400 peserta dari 104 kelurahan di Kota Padang ikut ambil bagian. Penyebutan 99 nama Allah itu pun terdengar seantero Kota Padang. Berangkat dari "Keajaiban Shalat Subuh", karya Best Seller Imad Ali Abdus Sami' Husain (2007), Fauzi Bahar memantapkan mengisi tahun 2008/1429 dengan gerakan Subuh Mubarakah. Gerakan ini secara sederhana ia rumuskan sebagai upaya untuk menggiatkan aktivitas umat yang dimulai dari masjid tatkala fajar menyingsing. Gerakan Subuh Mubarakah ini dilaunching Prof DR Amien Rais pada pergantian tahun 1428-1429 Hijriyah.
Perhatian Fauzi pada akidah dan pemantapan keimanan generasi muda tak mengurangi upayanya meningkatkan ekonomi. Ia memangkas birokrasi dan meniadakan pungutan, agar minat investor meningkat ke Kota Padang. Fauzi menggaransi "Zero Cost" bagi investor yang menanamkan investasi di Kota Padang.
Dalam rangka ini juga, Fauzi Bahar terus menggalakan sektor pariwisata. Karena menurutnya, Padang harus memilik daya tarik yang membuat orang datang ke Padang. "Bila sudah banyak pengunjung, tentu komoditas yang dijual di Kota Padang juga laku. Dampak ekonominya akan sangat teras," kata suami Mutiawati ini. Berbagai iven digelar. Lomba "Dragon Boat" menjadi kegiatan rutin setiap tahun. Terakhir Kota Padang dipercaya sebagai penyelenggara Festival Internasional Pemuda Olahraga Bahari (FIPOB) tingkat internasional. Ini adalah ajang promosi bagi wisata Kota Padang. Tapi itu ternyata belum cukup, sebab persoalan ekonomi yang membelit warga juga menyangkut pemodalan. Makanya, dalam APBD dianggarkan bantuan bergulir untuk UKM yang nilainya sekitar Rp5,5 miliar.
Sementara untuk memudahkan warga membangun, Fauzi membagi kewenangan dalam pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ke kecamatan, dan ke kelurahan. Kebijakan ini mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Padang. Di bidang pelayanan, Fauzi telah menelurkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat, di antaranya pengurusan akte kelahiran gratis, pengobatan gratis bagi warga miskin, dan pembatasan waktu dalam pengurusan KTP, serta urusan-urusan lainnya. Sedangkan dalam membangun, Fauzi Bahar punya kiat tersendiri. Ia tak ingin pemerintah jalan sendiri. Sebab, katanya, pembangunan adalah untuk masyarakat. Sehingga apa yang dibuat harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ini sekaligus untuk memacu partipasi warga. Makanya, ia memprogramkan bantuan dana operasional untuk RT/RW yang siginifikan. Ini sekaligus diiringi dengan kegiatan bulan bakti manunggal.
***
Empat tahun lebih menjadi Wali Kota Padang benar-benar menguji kepemimpinan seorang Fauzi Bahar. Betapa tidak, ia tak hanya dituntut mampu memenej pemerintahan, dan menjalankan pembangunan, tetapi sekaligus harus bisa menenangkan, dan menenteramkan warga Kota Padang. Bencana yang datang silih berganti seakan-akan menguji keberanian dan kecintaannya pada warganya. Ia pun membuktikan, bahwa ia siap berkorban demi kota kelahirannya ini.
Setiap kali gempa terjadi, isu tsunami merebak Fauzi langsung tanggap. Ia tak pernah beranjak meski gempa menggetarkan Kota Padang. Suaranya yang disiarkan Radio Republik Indonesia (RRI) secara langsung, menjadi embun penyejuk di tengah dahaga kepanikan dan gundah warga. Bersama unsur Muspida ia membentuk pasukan siaga bencana. Yang tak kalah penting, Fauzi selalu menggiatkan zikir bersama mengisi dada warga, agar selalu berdoa dan memohon perlindungan pada Allah. Segala akibat yang ditimbulkan bencana dengan sigap ditangani. Jalur eakuasi pun dibangun jika tsunami terjadi. Upaya kerasnya ini diganjar penghargaan BMG Award yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kota Padang kemudian ditetapkan sebagai percontohan dalam penanganan bencana. Fauzi Bahar pun sering diundang menjadi pembicara di tingkat nasional, dan internasional.
(Dari beberapa sumber)
Bersama Fauzi Bahar Padang Menuju Kota Terbaik di Indonesia
Publicado Rabu, 09 Juli 2008
Diposting oleh
Penganggum Sang Walikota
di
08.26
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar