Fauzi Bahar: Ajak Parpol, LSM, Ormas.Bangun Taman Untuk Keindahan Kota

Publicado  Rabu, 09 Juli 2008


Disebuah ruang pertemuan hotel Ina Muaro Padang, hadir sekitar 100 orang pengurus Partai Politik, ormas dan LSM se Kota Padang untuk mengikuti Pemberdayaan Lembaga Sosial Kemasyarakatan dan Partai Politik Se Kota Padang. Suasana pertemuan terasa cukup bersahabat. Tampak hadir ketua Partai Demokrat H. Muchklis Sani, Ketua Partai Hanura David Maldian, Ketua LSM Metafisika Ascot Amir, pengurus PAN dan Syafril dari PPDK. Pertemuan tersebut diselenggarakan Kesbangpol Kota padang Rabu (4/7/2007).

Walikota Padang Drs. H. Fauzi Bahar, Msi dalam kesempatan tersebut mengajak para pengurus Partai Politik, LSM, dan ormas untuk ikut membangun taman di jalan protokol di kota ini. Silahkan rancang modelnya, pasang plang merek partai, LSM dan Ormasnya. Hal ini sekaligus untuk mempromosikan Parpol, LSM, Ormas kepada masyarakat sambil membangun keindahan di Kota tercinta ini.Kalau ajakan ini disetujui para pengurus Parpol, LSM dan Ormas, maka lahan untuk pembangunan taman di jlan-jalan prototokol akan disediakan sepanjang 100 meter.

Selain itu, Wako Fauzi Bahar juga menuturtkan, bahwa saat ini pertemuan para pengurus Parpol dan LSM memang cukup bersahabat, tapi pada tahun 2008 nanti, menjelang pelaksanaan Pilkada hingga berakhir suasana akan berubah, didalam sebuah keluarga saja nanti akan terjadi 5 simpatisan dari partai yang berbeda.

Sejalan dengan itu, UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah serta pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah yang dipilih satu pasangahn secara langsung oleh rakyat, telah membawa angin segar dalam kancah perpolitikan di negeri ini. Sehingga proses politik kian dinamis dan demokratis, sebut Fauzi Bahar.

Sementara dalam pertemuan Pemberdayaan Lembaga Sosial Kemasyarakatan dan Partai Politik menghadirkan 4 orang pembicara, pertama Kepala Badan Kesbang Dan Linmas SumbarSyofyan, SH di Wakili Hadison, dengan tema makalah Proses pencalonan Kepala Daerah sesuai dengan PP 25 tahun 2007. Kedua—Kepala Biro Pemerintahan Sumbar denngan tema –Pembangunan Tatanan Kehidupan Demokratisasi ditinjau dari segi UU No 32 tahun 2004. Pembicara ketiga—Ketua KPUD Kota Padang dengan judul makalah, Kesiapan KPUD dalam menghadapi Pilkada Walikota/Wakil Walikota Padang Tahun 2008 dikaitkan dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum nomo 01 tahun 2007. Kempat dari Kepala Biro Keuangan Provinsi Sumbar dengan tema makalah ”Manajemen dan Penatausahaan Keuangan Parpol dan LSK dari Permendagri Nomor 13 dan nomor 25 tahun 2006.

Hadison dari Kesbang Linmas Sumbar, menyebutkan—untuk proses Pilkada di Sumatra Barat, kota Padang jadi barometernya. Untuk itu prosesi Pilkada di kota tercinta ini harus berjalan demokratis, sesuai dengan tuntunan undang-undang dan peraturannya. Ini yang sangat diharapkan bersama.

Disamping itu, untuk pilkada tahun 2008 nanti, ada perubahan untuk kepala daerah, dulu walikota/Bupati yang ikut mencalondiri lagi, enam bulan menjelang masa jabatannya harus mengundurkan diri. Tapi nanti tidak demikian lagi, 14 hari menjelang Pilkada harus mengambil cuti di luar tanggungan negara, selama masa kampanye dan tidak dibenarkan memanfaatkan fasilitas negara. Tugas Pemerintah hanya memfasilitasi Pilkada tersebut.

Bersama Fauzi Bahar Padang Menuju Kota Terbaik di Indonesia

Publicado  

18 Februari 2008 lalu, genap empat tahun Wali Kota Fauzi Bahar memimpin Kota Padang. Banyak yang telah ia lakukan, tapi tentu saja masih ada yang tertunda dan terabaikan. Karena mustahil semuanya serba sempurna. Setelah dilantik pada 18 Februari 2004 sebagai Wali Kota Padang, Putra Kototangah ini langsung menggebrak. Judi toto gelap (togel) yang seperti telah berurat berakar di Kota Padang, diperangi. "Jabatan saya, saya pertaruhkan untuk mengikis habis togel ini," begitu Fauzi Bahar bertekad. Meski awalnya banyak yang meragukan, tapi semua akhirnya berpihak pada sikap Fauzi Bahar. "Perang" dimulai! Karena besarnya dukungan dan kekuatan masyarakat, togel mengirap. Fauzi Bahar memulai babak baru pada 2005 atau persisnya memasuki awal 1426 Hijriyah. Kegelisahannya terhadap kemerosotan moral generasi muda tak tertahankan. Ia menghimpun segala masukan dan kekuatan para tokoh agama. Lahirlah kebijakan tentang Pesantren Ramadhan. Ini menjadi titik awal untuk mengembalikan generasi muda yang Islami di Kota Padang. Konsistensi dan keseriusan pendidikan untuk mempertebal keimanan dan ketakwaan generasi muda ini, dilengkapi dengan imbauan untuk berpakaian muslim bagi anak sekolah yang beragama Islam. Ini tentu saja dengan tetap menghormati keberagaman budaya dan perbedaan keyakinan masyarakat di Kota Padang.

Walau sempat dikritik, perlahan namun pasti kebijakan ini mendapat tempat dan efektif. Sebab, acuannya sangat jelas, bahwa masyarakat Minangkabau yang mayoritas muslim, memiliki falsafah hidup "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". Fauzi Bahar mengaplikasikannya.

Zakat Pemberantas Kemiskinan

Pada 2006 tepatnya pada momen 1 Muharram 1427 Hijriyah Fauzi Bahar mencanangkan pengoptimalan zakat untuk memberantas kemiskinan. Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid berkesempatan melaunching program ini. Ia memulai dari jajarannya. Para pegawai di lingkungan Pemko Padang menyalurkan zakat melalui Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Padang. Pengelolaannya dilakukan secara profesional dan transparan. Laporan pengelolaan (penerimaan dari muzaki dan penyaluran pada mustahik) disampaikan secara terbuka ke publik. Hingga tahun 2007 lebih dari Rp2 miliar zakat yang diterima telah disalurkan. Kontan, hal ini mendapat perhatian luas. Tak saja di Indonesia, Kota Padang juga menyita perhatian di tingkat Asia Tenggara, dan negara-negara lain. Puncaknya pada November 2007, Kota Padang ditunjuk sebagai penyelenggara Konferensi Zakat Asia Tenggara II. Tak kurang 350 peserta dari delegasi 8 negara peserta konferensi hadir di Padang. Mereka merupakan utusan Indonesia (tuan rumah), Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Australia, Qatar, Syria, Saudi Arabia, dan Amman.

Asmaul Husna dan Subuh Mubarakah
Program menggemakan kembali Asmaul Husna dicetuskan pada 2007/1428 Hijriyah. Saat program ini diluncurkan semua ulama mendukung. Puncaknya lomba membaca Asmaul Husna pun digelar. Sekitar 10.400 peserta dari 104 kelurahan di Kota Padang ikut ambil bagian. Penyebutan 99 nama Allah itu pun terdengar seantero Kota Padang. Berangkat dari "Keajaiban Shalat Subuh", karya Best Seller Imad Ali Abdus Sami' Husain (2007), Fauzi Bahar memantapkan mengisi tahun 2008/1429 dengan gerakan Subuh Mubarakah. Gerakan ini secara sederhana ia rumuskan sebagai upaya untuk menggiatkan aktivitas umat yang dimulai dari masjid tatkala fajar menyingsing. Gerakan Subuh Mubarakah ini dilaunching Prof DR Amien Rais pada pergantian tahun 1428-1429 Hijriyah.

Perhatian Fauzi pada akidah dan pemantapan keimanan generasi muda tak mengurangi upayanya meningkatkan ekonomi. Ia memangkas birokrasi dan meniadakan pungutan, agar minat investor meningkat ke Kota Padang. Fauzi menggaransi "Zero Cost" bagi investor yang menanamkan investasi di Kota Padang.

Dalam rangka ini juga, Fauzi Bahar terus menggalakan sektor pariwisata. Karena menurutnya, Padang harus memilik daya tarik yang membuat orang datang ke Padang. "Bila sudah banyak pengunjung, tentu komoditas yang dijual di Kota Padang juga laku. Dampak ekonominya akan sangat teras," kata suami Mutiawati ini. Berbagai iven digelar. Lomba "Dragon Boat" menjadi kegiatan rutin setiap tahun. Terakhir Kota Padang dipercaya sebagai penyelenggara Festival Internasional Pemuda Olahraga Bahari (FIPOB) tingkat internasional. Ini adalah ajang promosi bagi wisata Kota Padang. Tapi itu ternyata belum cukup, sebab persoalan ekonomi yang membelit warga juga menyangkut pemodalan. Makanya, dalam APBD dianggarkan bantuan bergulir untuk UKM yang nilainya sekitar Rp5,5 miliar.

Sementara untuk memudahkan warga membangun, Fauzi membagi kewenangan dalam pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ke kecamatan, dan ke kelurahan. Kebijakan ini mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Padang. Di bidang pelayanan, Fauzi telah menelurkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat, di antaranya pengurusan akte kelahiran gratis, pengobatan gratis bagi warga miskin, dan pembatasan waktu dalam pengurusan KTP, serta urusan-urusan lainnya. Sedangkan dalam membangun, Fauzi Bahar punya kiat tersendiri. Ia tak ingin pemerintah jalan sendiri. Sebab, katanya, pembangunan adalah untuk masyarakat. Sehingga apa yang dibuat harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ini sekaligus untuk memacu partipasi warga. Makanya, ia memprogramkan bantuan dana operasional untuk RT/RW yang siginifikan. Ini sekaligus diiringi dengan kegiatan bulan bakti manunggal.

***
Empat tahun lebih menjadi Wali Kota Padang benar-benar menguji kepemimpinan seorang Fauzi Bahar. Betapa tidak, ia tak hanya dituntut mampu memenej pemerintahan, dan menjalankan pembangunan, tetapi sekaligus harus bisa menenangkan, dan menenteramkan warga Kota Padang. Bencana yang datang silih berganti seakan-akan menguji keberanian dan kecintaannya pada warganya. Ia pun membuktikan, bahwa ia siap berkorban demi kota kelahirannya ini.

Setiap kali gempa terjadi, isu tsunami merebak Fauzi langsung tanggap. Ia tak pernah beranjak meski gempa menggetarkan Kota Padang. Suaranya yang disiarkan Radio Republik Indonesia (RRI) secara langsung, menjadi embun penyejuk di tengah dahaga kepanikan dan gundah warga. Bersama unsur Muspida ia membentuk pasukan siaga bencana. Yang tak kalah penting, Fauzi selalu menggiatkan zikir bersama mengisi dada warga, agar selalu berdoa dan memohon perlindungan pada Allah. Segala akibat yang ditimbulkan bencana dengan sigap ditangani. Jalur eakuasi pun dibangun jika tsunami terjadi. Upaya kerasnya ini diganjar penghargaan BMG Award yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kota Padang kemudian ditetapkan sebagai percontohan dalam penanganan bencana. Fauzi Bahar pun sering diundang menjadi pembicara di tingkat nasional, dan internasional.
(Dari beberapa sumber)